Sabtu, 10 Desember 2011

Konsep Dasar Riset


Konsep Dasar Riset

Siapakah yang Perlu Meneliti ?
Dahulu, apabila mendengar kata "penelitian," orang sering membayangkan suatu kesi.bukan di laboratorium. Seorang ahli sedang asyik mengamati reaksi zat-zat yang dicampur di tabung reaksi, atau dalam labu didih, tabung Erlenmeyer atau alat-alat lain yang serba rumit. Dengan demikian maka penelitian adalah suatu kegiatan monopoli para ahli.
Memang apa yang dibayangkan orang-orang seperti disebutkan itu ada betulnya, tetapi tidak seluruhnya betul. Orang-orang di laboratorium memang sedang melaksanakan penelitian, penyelidikan di dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Akan tetapi penelitiaan bukan hanya boleh dan dapat diiakukan bidang Ilmu Pengetahuan Alam saja. Penelitian dapat dilakukan di seluruh bidang ilmu.
Namun demikian masih banyak orang terpelajar yang beranggapan bahwa meneliti adalah tugas para ahli, profesor, doktor. Sangat disayangkan apabila anggapan semacam itu merembes ke mahasiswa. Pada waktu belum ada ekuivalen thesis atau ekuivalen skripsi, mahasiswa masih serius mempelajari Metodologi Penelitian karena akan merupakan bekal untuk mengadakan penelitian dalam rangka penulisan skripsi atau thesisnya. Setelah mereka diperbolehkan mengambil ekuivalen skripsi atau ekuivalen thesis, lalu beranggapan bahwa ilmu tentang penelitian tidak diperlukan lagi. Mereka lupa atau mungkin belum menyadari bahwa siapa pun boleh meneliti, bahkan dengan tegas  dikatakan bahwa sarjana harus dapat meneliti, karena hanya dengan pcnelitianlah ilmu dapat dikembangkan secara ilmiah.
Seorang ahli masak, membuat kue dengan bahan sekian ons terigu, sekian butir telur, sekian ons gula pasir, sekian ons mentega bahan-bahan lain. Diperolehlah sebuah kue yang lezat. Ahli masak tersebut tidak puas dengan pekerjaan itu. ia selalu berpikir mencari akal bagaimana dapat diperoleh kue yang lebih enak lagi dengan bahan-bahan yang jumlahnya sama, atau kalau dapat, dcngan bahan yang lebih sedikit sehingga biayanya lebih murah. Ahli masak ini scbenamya juga sedang mengadakan penelitian. Tetapi tidak melalui prosedur yang jelas, dan tidak melaporkan hasilnya dalam bentuk tulisan.
Ahli-ahli lain, mulai dari tukang sepatu, pabrik rokok, tukang pakaian konfeksi sampai ke ahli-ahli yang menangani bom neutron dan voyager, semuanya sedang mengadakan pcnelitian, walaupun prosedur dan kualitas penelitiannya berbeda-beda. Seorang guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar. la membantu si anak didik. la selalu berusaha agar kadar bantuannya dapat meningkat sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Usahanya ada bermacam-macam. Mungkin ia memberikan motivasi belajar yang banyak. Mungkin ia mengganti metode yang ia gunakan untuk menerangkan. Mungkin menambah alat peraga dan sebagainya.
Barang siapa ingin meningkatkan hasil untuk apa saja yang sedang ia tekuni, membutuhkan kegiatan penelitian.

Apa Itu Riset?
   Karena saat ini Anda mulai belajar mengenai riset terutama riset keperawatan penting bagi Anda untuk memahami apa sebenarnya riset itu dan apa yang bukan riset. Jika Anda sama seperti orang-orang lain, Anda mungkin akan menghubungkan kata riset dengan eksperimen yang di­lakukan di laboratorium terhadap berbagai binatang, atau de­ngan penemuan obat baru atau metode pengobatan baru di bi­dang medis. Anda mungkin juga menghubungkan kata riset dengan eksperimen ilmiah yang dilakukan di luar angkasa selama beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, pada dasarnya, kata riset memiliki beragam arti dan aplikasi yang sangat luas.
            Ada banyak pendapat yang berbeda mengenai kata riset karena ada banyak penulis yang menawarkan pendapat yang berbeda-­beda, pendapat-penda­pat ini dan menawarkan penjelasan tentang riset seperti di ba­wah ini:
Riset adalah proses penelitian ilmiah dan atau eksperimentasi ilmiah yang melibatkan pengumpulan data yang sangat banyak, bertujuan, dan sistematik. Analisis dan interpretasi data ke­mudian dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan baru atau menambah pengetahuan yang sudah ada. Riset memiliki tujuan akhir untuk mengembangkan suatu kerangka pengetahuan il­miah yang terorganisasi.
Sebelum kita melihat lebih jauh mengenai apakah riset itu, kita lihat dahulu mengenai apa yang bukan termasuk riset. Riset bukanlah datang ke perpustakaan untuk mengumpulkan infor­masi yang ada mengenai topik spesifik dan kemudian me­nuliskan ulasan mengenai materi seperti yang ada pada skripsi ataupun proyek riset. Aktivitas ini, melibatkan penyusunan ulang atau pernyataan kembali pengetahuan yang sudah di­ketahui, aktivitas ini terkadang disebut sebagai pencarian (search) bukan riset (research). Untuk menggolongkan suatu pekerjaan sebagai "riset ilmiah," kita harus menggunakan pengetahuan di masa ini dan masa lalu untuk menjawab pertanyaan baru dan menambah pengetahuan baru untuk memperkaya pengetahuan yang sudah ada. Aktivitas riset dimaksudkan untuk mencari jawaban pertanyaan atau solusi masalah. Dengan demikian, menyampaikan pengetahuan yang sudah ada tidak dianggap sebagai aktivitas riset kecuali ada pertanyaan baru yang dijawab atau masalah baru yang dise­lesaikan. Riset hanya dilakukan setelah pengkajian menyeluruh terhadap suatu materi berkaitan dengan pertanyaan yang di­ajukan atau masalah yang ditemukan. Pengkajian ini menen­tukan bahwa jika sudah ada jawaban untuk pertanyaan atau masalah, tidak diperlukan lagi riset yang baru kecuali peneliti menduga adanya kesalahan atau mencari solusi alternatif.
Oleh karena kita telah mengulas sedikit mengenai apa yang bukan termasuk riset, kita kembali akan membahas mengenai apa sebenarnya riset itu. Riset dapat digambarkan sebagai proses penelitian ilmiah dan/atau eksperimentasi yang melibatkan pengumpulan data yang sangat banyak, bertujuan, dan sistematik. Analisis dan interpretasi data kemudian dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan baru atau menam­bah pengetahuan yang sudah ada, dengan maksud utama untuk mengembangkan rangka pengetahuan ilmiah.
Pengertian yang salah tentang riset:
  • Pengumpulan data atau informasi
  • Studi pustaka / Kajian dokumentasi
  • Penulisan makalah
Bekerja menyendiri di laboratorium, perpustakaan & lepas dari kehidupan sehari-hari
Riset Sebagai suatu Proses Penelitian Ilmiah
Ilmu merupakan cabang pengetahuan atau studi yang berkaitan dengan pembentukan pengetahuan yang sistematik melalui pembentukan dan penyusunan fakta, prinsip, dan metode. Tuju­an ilmu pengetahuan adalah mengembangkan teori guna menje­laskan, memprediksi, atau mengendalikan fenomena.

Metode Ilmiah
Dalam riset digunakan metode ilmiah, yaitu suatu proses ber­urutan yang memakai prinsip-prinsip ilmiah. Metode ilmiah perlu menggunakan rangkaian langkah tertentu untuk menda­patkan informasi yang dapat diandalkan dalam pemecahan ma­salah. Metode ilmiah ditandai dengan (1) urutan, (2) pengenda­lian, (3) empirisme, dan (4) generalisasi.

Urutan
Pendekatan ilmiah untuk menyelesaikan masalah memerlukan penerapan yang berurutan dan disiplin sehingga hasil peneli­tian dapat dipercaya. Hal ini perlu menggunakan metode il­miah, yang melibatkan serangkaian langkah sistematik berikut: (1) identifikasi masalah untuk diselidiki, (2) pengumpulan in­formasi berkaitan dengan rencana yang didesain sebelumnya yang berisi solusi masalah tersebut), (3) analisis informasi, dan (4) penarikan kesimpulan berkaitan dengan masalah yang diselidiki.

Kontrol
Kontrol faktor yang tidak relevan dengan penelitian merupakan menjadi esensial pada metode ilmiah. Ini berarti bahwa peneliti harus mencoba mengidentifikasi efek faktor yang tidak lang­sung diselidiki, berkaitan dengan masalah yang diidentifikasi, dan harus berusaha menjaganya agar tidak mempengaruhi fak­tor-faktor yang diidentifikasi dalam penelitian. Sebagai contoh, penelitian yang menyelidiki hubungan antara kejadian serebrovaskular dan penggunaan kontrasepsi oral, peneliti harus melakukan tindakan untuk mengontrol pengaruh seperti stres, diet, dan faktor lain yang berkontribusi pada terjadinya aterosklerosis.

Empiris
Metode ilmiah juga ditandai dengan empirisme, yaitu bahwa bukti yang dikumpulkan yang membentuk pengetahuan baru harus berasal dari realitas objektif dan harus dikumpulkan se­cara langsung atau tidak langsung melalui lima indra manusia: penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan peraba.


Generalisasi
Generalisasi, yaitu karakteristik lain pada metode ilmiah, mengandung arti bahwa peneliti tidak menggunakan metode ilmiah hanya untuk memahami kejadian yang terisolasi, tetapi juga mampu menerapkan hasil penyelidikannya pada lingku­ngan yang lebih besar. Sebagai contoh, pada penelitian klinis eksperimental yang didesain untuk menyelidiki keefektifan stockinette caps untuk mempertahankan panas tubuh bayi baru lahir, 40 bayi dari bagian perinatal di sebuah rumah sakit swas­ta dijadikan sampel dengan cara tertentu untuk memastikan bahwa mereka dan ibu mereka merupakan subjek (bayi) yang ekuivalen dan normal. Bayi tersebut secara random dima­sukkan dalam satu kelompok percobaan (menggunakan stocki­nette caps) atau satu kelompok kontrol (tanpa caps). Suhu ba­dan bayi diukur 5 menit dan 30 menit setelah lahir. Tingkat suhu yang hilang dicatat dan perbedaan rerata panas yang hi­lang dilaporkan. Tujuan akhir penelitian ini tidak hanya untuk menganalisis efek stockinette caps pada bayi tertentu di dalam penelitian ini, tetapi penelitian ini juga didesain untuk menarik kesimpulan mengenai efek stockinette caps pada bayi baru lahir secara umum. Jenis generalisasi yang berasal dari studi riset seperti ini membantu perkembangan teori ilmiah sehingga da­pat memberikan penjelasan dan prediksi mengenai kejadian mendatang.

SUMBER PENGETAHUAN MANUSIA
Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh pengetahuan manusia sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni: Cara tradisional non ilmiah, cara modern atau ilmiah
a.       Cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan
Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum diketemukannya metode ilmiah secara sistematik dan logis. Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain meliputi :

(1) Tradisi
Dengan adat istiadat kita dan profesi keperawatan, beberapa pendapat diterima sebagai sesuatu yang benar. Banyak pertanyaan terjawab dan banyak permasalahan dapat dipecahkan berdasarkan suatu tradisi. Tradisi adalah suatu dasar pengetahuan dimana setiap orang tidak dianjurkan untuk memulai mencoba memecahkan masalah. Akan tetapi, tradisi mungkin terdapat kendala untuk kebutuhan manusia karena beberapa tradisi begitu melekat sehingga validitas, manfaat, dan kebenarannya tidak pernah dicoba diteliti. Disamping itu tradisi tidak cocok dengan keadaan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi demokrasi. Misalnya perawat membantu klien untuk dapat mandiri dan mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sesuai yang diinginkannya.


(2) Autoritas
Dalam masyarakat yang semakin majemuk, adanya suatu autoritas seseorang dengan keahlian tertentu. Pasien memerlukan perawat atau dokter dalam lingkup medik, orang dengan masalah hukum tergantung dengan pengacara, murid tergantung dengan dosen atau instruktur atau buku. Ketergantungan terhadap suatu autoritas tidak dapat dihindarkan karena kita tidak dapat secara otomatis menjadi seorang ahli dalam mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi. Akan tetapi, seperti halnya tradisi, jika keahliannya tergantung dari pengalaman pribadi, sering pengetahuannya tidak teruji secara ilmiah.

(3) Pengalaman seseorang
Kita semua memecahkan suatu permasalahan berdasarkan observasi dan pengalaman sebelumnya, dan ini merupakan pendekatan yang penting dan bermanfaat. Kemampuan untuk menyimpulkan, mengetahui aturan, dan membuat prediksi berdasarkan observasi adalah penting bagi pola penalaran manusia. Akan tetapi, pengalaman individu tetap mempunyai keterbatasan pemahaman: (1) setiap pengalaman seseorang mungkin terbatas untuk membuat kesimpulan yang valid tentang situasi, dan (2) pengalaman seseorang diwarnai dengan penilaian yang bersifat subyektif.

(4)Trial dan Error
Kadang kadang kita menyelesaikan suatu permasalahan keberhasilan kita dalam menggunakan alternatif pemecahan melalui `coba dan salah". Meskipun pendekatan ini untuk beberapa masalah lebih praktis, sering tidak efisien. Metode ini cenderung ke suatu resiko yang tinggi, penyelesaiannya untuk beberapa hal mungkin "idiosyentric".

(5) Alasan yang logis
Kita sering menyelesaikan suatu masalah berdasarkan proses pemikiran yang logis. Pemikiran ini merupakan komponen yang penting dalam pendekatan ilmiah, akan tetapi alasan yang rasional sangat terbatas karena validitas alasan deduktif tergantung dari informasi dimana seseorang memulai, dan alasan tersebut mungkin tidak efisien untuk mengevaluasi akurasi permasalahan.

(b) Cara modern
Cara modern untuk mendapatkan pengetahauan adalah dengan metode ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan yang paling tepat untuk mencari suatu kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistematis serta dalam mengumpulkan dan menganalisa datanya didasarkan pada prinsip validitas dan reliabilitas. Metode ini jika di kombinasi dengan pemikiran yang logis baik dengan pendekatan induktif maupun deduktif, sehingga akan mampu menciptakan suatu sistem problem solving yang lebih akurat dan tepat dari pada tradisi, autoritas, pengalaman, dan trial dan error.

Tujuan Riset
Riset melibatkan proses penemuan jawaban untuk suatu perta­nyaan atau solusi suatu masalah, menemukan dan meng­interpretasi fakta baru, menguji teori guna merevisi teori atau hukum yang sudah diterima berdasarkan fakta baru tersebut, dan merumuskan teori baru. Akhirnya, tujuan akhir riset adalah mengembangkan rangka pengetahuan ilmiah yang sistematis dan dapat digunakan unuk menjelaskan, memprediksi, dan me­ngendalikan fenomena. Salah satu contoh kegunaan teori dalam memprediksi fenomena adalah penggunaan teori kontrol untuk memprediksi perilaku koping praoperatif pada anak-anak.

Riset Keperawatan
Riset keperawatan dilakukan untuk menjawab pertanyaan atau menemukan solusi masalah yang ada pada bidang khusus yang disebut keperawatan-yaitu, "diagnosis dan penanganan respons manusia terhadap masalah kesehatan aktual atau poten­sial".
Riset keperawatan merupakan suatu karya dalam bidang keperawatan yang ditulis berdasarkan kenyataan ilmiah, diperoleh sebagai hasil penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan (klinik dan laboratorium). Riset keperawatan ini membahas suatu masalah yang timbul berdasarkan teori-teori ilmiah dan kenyataan obyektif sehingga dapat di buat suatu analisis, diolah, menghasilkan suatu kesimpulan yang benar untuk menjawab masalah yang sedang di bahas.(Alimul Aziz.H, 2003).
Untuk melengkapi riset biomedis yang terutama ber­fokus pada penyebab dan pengobatan penyakit, riset kepe­rawatan menguji "proses biologis, biomedis dan perilaku yang mendasari kesehatan dan lingkungan tempat pemberian pera­watan kesehatan". Riset keperawatan dilakukan untuk me­ngembangkan rangka pengetahuan ilmiah yang terorganisasi dan unik pada keperawatan
Riset keperawatan mengembangkan pengetahuan mengenai ke­sehatan dan peningkatan kesehatan sepanjang rentang kehidu­pan, perawatan seseorang yang mengalami masalah kesehatan dan ketidakmampuan/kecacatan, dan tindakan keperawatan un­tuk meningkatkan kemampuan individu dalam merespons seca­ra efektif masalah kesehatan aktual atau potensialnya.. Riset yang dilakukan oleh perawat mencakup berbagai jenis studi gu­na mendapatkan intervensi klinis untuk membantu mereka yang membutuhkan asuhan keperawatan. Kompleksitas riset kepe­rawatan dan cakupannya yang luas sering kali memerlukan so­kongan dari beberapa disiplin ilmu. Dengan demikian, riset keperawatan melintasi garis riset tradisional dan membentuk metodenya dari beberapa bidang.


Tujuan riset keperawatan
Tujuan riset keperawatan bersifat ganda. Riset keperawatan menambah dasar pengetahuan ilmiah keperawatan dan meningkatkan praktik keperawatan bagi perbaikan akhir perawatan pasien: "Praktik berdasarkan-riset merupakan hal yang esensial jika profesi keperawatan ingin menjalankan kewajibannya pada masyarakat guna memberikan perawatan yang efektif dan efisien"
Selama beberapa tahun terakhir, perawat yang melakukan riset telah menambah dasar pengetahuan ilmiah keperawatan untuk memperbaiki perawatan pasien dengan studi mengenai topik seperti efek informasi pada koping pascabedah; kepatuhan wanita-wanita lansia terhadap program pengobatan perawatan kesehatan, efek sistem distribusi pengobatan pada kesalahan pengobatan; dan ketidakpastian serta penyesuaian selama radioterapi

Sejarah riset keperawatan
Tahap awal : sebelum tahun 1960an
  • Florence Nightingale --> laporan mengenai faktor-faktor yang berdampak pada kesakitan dan kematian prajurit Inggris selama perang Crimean. Dipublikasikan dalam Notes on Nursing (1859).
  • Th 1900an s.d. 1940an --> pengembangan pendidikan tinggi keperawatan
  • Th 1950an --> jurnal Nursing Research terbit
  • Th 1963 --> International Journal of Nursing Studies
  • Th 1969 --> Canadian Journal of Nursing Research

Sejak tahun 1970an
  • Pengembangan teori keperawatan dan isu-isu keperawatan
  • Penerbitan jurnal keperawatan th 1970an: Advances in Nursing Science, Research in Nursing & Health, the Western Journal of Nursing Research, Journal of Advanced Nursing
  • Penerbitan jurnal di th 1980an: Applied Nursing Research, Evidenced Based Medicine
  • Mulai ada perhatian untuk mengaplikasikan temuan riset ke dalam praktik keperawatan
  • Pengembangan lembaga penelitian yang berfokus pada perawatan klien di AS th 1986 (National Center for Nursing Research di bawah National Institutes of Health)
  • Penerbitan jurnal di th 1990an: Qualitative Health Research (1990), Clinical Nursing Research (1991), Clinical Effectiveness in Nursing (1996).
  • Cochrane Collaboration (www.cohrane.co.uk), CINAHL (www.cinahl.com), PubMed (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/) --> direktori rangkuman hasil penelitian (systematic review)
  • Penerbitan Jurnal Keperawatan di Universitas Indonesia (akhir th 1990-an)
  • Di Departemen Kesehatan RI, dukungan terhadap riset keperawatan melalui Riset Pembinaan Tenaga Kesehatan (Risbinakes)
  • Sampai saat ini di Indonesia masih dalam fase stimulasi --> membangkitkan gairah riset keperawatan dan aplikasinya dalam praktik keperawatan


Tahapan perkembangan riset keperawatan (Ross, Mackenzie & Smith, 2003)
  1. Fase stimulasi, bangkitnya kegairahan riset keperawatan
  2. Fase individualistis, perawat secara individual melakukan riset mandiri dengan bimbingan ahli statistik.
  3. Fase penyatuan, pengembangan jejaring (network) peneliti keperawatan
  4. Fase keseimbangan, kolaborasi beberapa program penelitian ilmiah

Etika Riset Keperawatan (Loiselle et al., 2004) :
  1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)
  2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (respect for privacy and confidentiality)
  3. Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness)
  4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing harms and benefits)

Mengapa Perawat harus Belajar tentang Riset
Salah satu karakteristik kelompok profesional adalah kelompok tersebut memiliki rangka pengetahuan dan keterampilan yang unik. Secara umum disepakati bahwa keperawatan masih dalam proses mendefinisikan tidak hanya keperawatan, tetapi juga apa yang ada di dalam rangka pengetahuan dan keterampilannya yang unik tersebut. Berdasarkan hal ini, keperawatan perlu ber­usaha untuk melakukan penyelidikan yang sistematik terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan praktik dan profesi keperawatan.
Pedoman riset keperawatan tahun 1985 yang disusun oleh American Nurses' Association Cabinet on Nursing Research metnperkenalkan sifat esensial riset dalam memperbaiki praktik keperawatan menuju abad kedua puluh satu. Masa depan praktik keperawatan dan, pada akhirnya, masa de­pan perawatan kesehatan di negara ini bergantung pada riset keperawatan yang didesain secara konstan untuk menghasilkan rangka pengetahuan keperawatan yang terorganisasi dan sesuai dengan zaman. Masyarakat dan pendekatannya pada perawatan kesehatan mengalami perubahan yang cepat. Dengan demi­kian, riset keperawatan harus dilakukan secara berurutan, membentuk pengetahuan berdasarkan informasi sebelumnya guna memberikan landasan bagi pendidikan dan praktik keperawatan di abad kedua puluh satu.
Pernyataan sikap tahun 1993 mengenai pendidikan untuk berpartisipasi dalam riset keperawatan, yang disiapkan oleh American Nurses' Association Council of Nurse Researchers, menyebutkan bahwa elemen kompetensi riset yang sesuai untuk perawat dipersiapkan pada berbagai jenis program pendidikan keperawatan pada tingkat ahli madya, sarjana, master, doktoral, dan pascadoktoral. Jika keperawatan bertujuan untuk mengembangkan dan mengorganisasi kerangka ilmu pengetahuan ilmiah, ada beberapa cara berpartisipasi yang dapat Anda lakukan sebagai perawat
Manusia pada dasarnya selalu ingin tahu yang benar. Untuk memenuhi rasa ingin tahu ini, manusia sejak zaman dahulu telah berusaha mengumpulkan pengetahuan. Pengetahuan pada dasarnva terdiri dan sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang lain. Semenjak adanya sejarah kehidupan manusia di bum] ini, manusia telah berusaha mengumpulkan fakta. Dari fakta­-fakta ini kemudian disusun dan disimpulkan menjadi berbagai teori. sesuai dengan fakta yang dikumpulkan tersebut. Teori-teori tersebut kemudian digunakan untuk memahami gejala-gejala alam dan kema­syarakatan yang lain. Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, teori-teori tersebut makin berkembang baik kualitas maupun kuantitasnya, seperti apa yang telah kita rasakan dewasa ini

Keterbatasan Penelitian Ilmiah
(1) Moral atau ethical issues
Moral atau ethical issues mengakibatkan keterbatasan pada penelitian ilmiah dalam berbagai aspek. Hambatan pertama adalah apa yang bisa diterima atas nama ilmu terhadap kehidupan organisma. Kedua, tipe permasalahan apa dan dimana metode ilmiah bisa diterapkan. Penelitian ilmiah tidak bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan moral atau etik. Misalnya, pertanyaan apakah euthanasia bisa diterapkan dalam pelayanan kesehatan. Riset tidak bisa menjawab pertanyaan dengan hanya berdasarkan penilaian manusia, meskipun penelitian ilmiah dapat memberikan garis terang terhadap beberapa aspek pertanyaan tersebut.

(2) Pengukuran masalah
Meskipun pengukuran fisiologis manusia, seperti tekanan darah, temperatur, dan fungsi jantung dapat secara akurat diukur, akan tetapi akan lebih sulit mengukur dan menyusun pengukuran fenomena psikologi klien, seperti cemas, nyeri, percaya diri, dan agresif.

(3) Human complexity
Salah satu hambatan yang ditemui dalam melakukan penelitian adalah topik tentang manusia. Setiap manusia adalah unik dalam karakternya, lingkungan sosial, kemampuan mental, nilai, gaya hidup, dan status kesehatannya. Sangat sulit pada penelitian ilmiah yang hanya berfokus pada bagian kecil dari pengalaman manusia, terutama untuk mengungkap permasalahan yang komplek tersebut secara adekuat. Keterbatasan tersebut mengakibatkan beberapa perawat menolak menggunakan model yano tradisional dari pendekatan ilmiah, dan cenderung berpegang pada filosofi "logical positivism". Alternatif lain pendekatan yang digunakan adalah "phenomenology"

Metode Penelitian Keperawatan
Seleksi metode yang tepat tergantung dari selera peneliti dan philosophy, tetapi juga tergantung dari banyaknya permasalahan penelitian. Dalam keperawatan yang sering digunakan adalah dengan mendapatkan informasi secara: quantitative dan qualitative. Quantitative riset meliputi sistimatika pengumpulan informasi secara numeric / angka, biasmya dengan adanya suatu control, dan analisa informasi dengan menggunakan prosedur statistik. Qualitative riset meliputi sistematika pengumpulan dan analisa yano lebih subyektif dengan material yang naratif, dengan menggunakan prosedur yang cenderung sedikit menggunakan kontrol.

RUANG LINGKUP RISET KEPERAWATAN
Penelitian keperawatan merupakan bagian dari penelitian bidang kesehatan yang lebih memfokuskan diri pada bidang keperawatan, penelitian tersebut dapat dilakukan pada pasien, sumber daya di bidang keperawatan atau pendidikan keperawatan. Penelitian didalam keperawatan harus mempunyai batasan yang jelas tetapi tidak menutup kemungkinan akan berkembang keluar area yang telah dibatasi. Menurut Nursalam dan Siti Pariani adalah sebagai berikut :

Promosi Kesehatan
Penelitian pada bidang ini berhubungan dengan perubahan atau peningkatan perilaku individu terhadap kesehatan seperti : 1) penelitian perilaku dalam menghindari merokok, penelitian ini digunakan untuk menilai sejauh mana komponen perilaku dalam menghindari merokok, faktor-faktor yang menyebabkan perilaku menghindari merokok sehingga akhirnya dapat dijadikan sebagai dasar untuk meningkatkan derajat kesehatan. 2) penelitian perilaku makan sehat, penelitian ini ingin mengambarkan bagaimana perilaku sehat dalam kehidupan yang berdampak menurunkan terjadinya angka kesakitan, atau dapat digunakan sebagai dasar untuk mencari faktor penyebab perilaku makan sehat 3) penelitian tentang upaya pencegahan HIV/AIDS, penelitian ini digunakan untuk mempelajari upaya­upaya apa saja yang digunakan dalam pencegahan HIVAIDS, setelah dipelajari terhadap upaya dalam pencegahan HIV/AIDS maka dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan derajat kesehatan.4) penelitian tentang pendidikan kesehatan kepada individu. keluarga dan masyarakat, penelitian ini ingin mempelajari sejauh mana pendidikan kesehatan dilakukan pada individu, kelompok dan masyarakat dapat berpengaruh pada peningkatan derajat kesehatan atau juga mempelajari faktor yang mempengaruhi pendidikan kesehatan pada individu, dapat digunakan untuk memperbaiki pendidikan kesehatan pada keluarga dan masyarakat 5) penelitian tentang motivasi gaya hidup, penelitian masalah ini ingin mempelajari sejauh mana motivasi yang digunakan dalam meningkatkan derajat kesehatan atau juga dapat dicari faktor yang menyebabkan motivasi gaya hidup menurun atau tidak. Penelitian tersebut diatas merupakan contoh penelitian keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan.



Keperawatan Klinik
Keperawatan klinik merupakan lingkup penelitian keperawatan yang ada pada tatanan pelayanan, lingkup ini membahas tentang beberapa penelitian yang berhubungan dengan asuhan keperawatan terhadap masalah pada klien (proses keperawatan) seperti : 1) penelitian tentang efektifitas intervensi keperawatan terhadap masalah pada klien, penelitian ini dilakukan dengan memberikan intervensi keperawatan dan dihubungkan dengan masalah keperawatan kemudian di cari dampak atau perubahan yang akan terjadi, 2) Penelitian tentang pengaruh tindakan keperawatan terhadap perubahan hasil dari sebuah tindakan, menilai ada tidaknya pengaruh tindakan keperawatan terhadap perubahan atau masalah yang terjadi dengan tidak memberikan perlakukan. 3) penelitian tentang faktor yang mempengaruhi masalah keperawatan pada klien, penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi masalah keperawatan.

Kelompok Resiko Tinggi
Lingkup penelitian keperawatan ini meliputi beberapa penelitian pada kelompok beresiko tinggi terhadap perubahan kesehatan seperti . 1) penelitian tentang faktor resiko terjadi masalah keperawatan, penelitian ini ingin mempelajari faktor resiko apa saja yang terjadi pada masalah keperawatan 2) penelitian tentang faktor penyebab wabah di masyarakat, pada penelitian ini juga ingin mempelajari faktor­faktor apa yang menyebabkan wabah pada masyarakat 3) penelitian tentang upaya masyarakat/kelompok mengatasi resiko terjadi masalah keperawatan, pada penelitian upaya atau peran apa yang dilakukan pada masyarakat atau kelompok untuk mengatasi resiko terjadinya suatu masalah.

Deskripsi Keperawatan yang Holistik
Pada lingkup keperawatan holistik, penelitian ini dilakukan untuk mempelajari aspek keperawatan secara utuh, dimana lingkup ini meliputi penelitian tentang manusia sebagai mahluk biopsikososial dan spiritual seperti : 1) penelitian tentang manajemen gaya hidup dalam mengatasi masalah keperawatan klien, penelitian ini mempelajari manajemen gaya hidup manusia sebagai mahluk utuh dalam mengatasi masalah keperawatan di tinjau dari aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual. 2) penelitian tentang masalah keperawatan klien di tinjau dari aspek biopsikososial dan spiritual, mempelajari masalah-masalah keperawatan di tinjau dari aspek holistik seperti tinjauan aspek spiritual terhadap terjadinya perubahan masalah keperawatan dan lain-lain.

Kelompok Khusus
Lingkup penelitian keperawatan ini mempelajari atau meneliti pada kelompok­kelompok khusus seperti 1) penelitian pada kelompok pekerja sex komersial, penelitian ini dimaksudkan untuk mempelajar: masalah yang berhubungan dengan kelompok pekerja seksual atau mencari faktor penL,ebab dan kemungkinan masalah kesehatan yang akan timbul 2) penelitian pada kelompok lansia, penelitian diaharapkan bisa menilai masalah kesehatan yang terjadi pada lansia atau faktor yang berhubungan terhadap menurunnya fungsi pada lansia 3) penelitian pada kelompok narapidana, penelitian ini dimaksudkan untuk mempelajari masalah-masalah keperawatan yang berhubungan dengan kehidupan narapidana seperti faktor yang menyebabkan terjadinya seseorang menjadi narapidana yang ditinjau dari masalah keperawatan, hubungan dengan status sebagai anggota masyarakat. konsep dirinya dan lain-lain.

Kepatuhan terhadap Program Pengobatan/Keperawatan
Pada Lingkup penelitian ini mempelajari tingkat kepatuhan atau ketaatan terhadap program keperawatan atau pengobatan seperti : 1) penelitian tentang ketaatan diet bagi klien penyakit diabetes melitus, bertujuan mempelajari bagaimana tingkat ketaatan diet pada penderita diabetes dan berpengaruh pada tingkat kesembuhan 2) penelitian ketaatan mobilisasi bagi klien dengan masalah penyakit dekubitus, ingin mempelajari pengaruh tingkat ketaatan mobilisai dengan derajat kesembuhan ciekubitus 3) penelitian tentang ketaatan program Iatihan bagi klien yang mempunyai masalah keperawatan, mempelajari pengaruh ketaatan program latihan dengan masalah keperawatan yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar